Di dunia di mana Tingkat Pengembalian Internal (โIRRโ) pernah menjadi standar emas, sentimen LP telah bergeser ke arah Distribusi ke Modal yang Disetor (โDPIโ) sebagai indikator utama keberhasilan. Ini bukanlah hal yang mengejutkan - lingkungan likuiditas yang semakin ketat, suku bunga yang lebih tinggi, dan pasar exit yang lesu telah memaksa investor untuk fokus pada pengembalian yang terealisasi daripada margin keuntungan di atas kertas. Di seluruh Asia Tenggara, pergeseran paradigma ini membentuk kembali bagaimana GP mendekati likuiditas dan apa yang diharapkan LP sebagai imbalannya.
Pertumbuhan ekonomi Asia Tenggara (SEA) pada tahun 2025 diproyeksikan melampaui rata-rata global - 4.1% berbanding 3%. Pertumbuhan ini didorong oleh kelas menengah yang berkembang pesat, investasi infrastruktur, dan digitalisasi. Lebih dari 460 juta orang kini terhubung ke internet, dan ekonomi digital kawasan ini diperkirakan akan melampaui US$330 miliar pada tahun 2025 dan berpotensi mencapai US$1 triliun pada tahun 2030.
Dalam edisi SEA Horizons kali ini kami mengeksplorasi peluang yang berkaitan dengan Asia Tenggara, termasuk gelombang perusahaan rintisan femtech di kawasan tersebut, pentingnya melihat peluang yang lebih luas dari sekadar isu kesehatan khusus perempuan, dan bagaimana paradigma baru opsi pemberian layanan dapat membuka pasar baru.
Edisi khusus SEA Horizons ini menyoroti peran perempuan dalam membentuk pasar modal, membuka batas ekonomi baru, dan memimpin sektor dengan pertumbuhan tinggi.
Seiring kecerdasan buatan terus mengubah lanskap investasi, mitra terbatas (LP) dan pemodal ventura (VC) menyadari bahwa nilai AI melampaui efisiensi operasional. AI semakin muncul sebagai alat transformatif dalam pengambilan keputusanโterutama dalam mengidentifikasi manajer yang sedang berkembang, strategi sektor baru, dan peluang pasar.